V /v/ dan F /f/ dibentuk dengan posisi mulut yang persis sama. Bibir bawahmu menyentuh pelan gigi depan atas saat udara didorong keluar. Satu-satunya pembeda adalah penyuaraan (voicing). Untuk /v/, pita suaramu bergetar (kamu bisa merasakan getaran di tenggorokan). Sebaliknya, /f/ adalah aliran udara konstan tanpa getaran pita suara. Penutur bahasa Jerman, Spanyol, Mandarin—termasuk Indonesia, yang sering mengganti /v/ dengan /f/ atau /p/ seperti pada kata video yang menjadi pideo—kerap kesulitan membedakan kedua bunyi ini. Di akhir kata, penutur bahasa Jerman dan Rusia (serta Indonesia) sering kali tanpa sadar mengganti /v/ dengan /f/ yang tak bersuara.
Di mana kedua bunyi ini berbeda.
4 penyesuaian mulut kecil. Salah satu saja keliru, dan bunyinya tergelincir ke bunyi sebelahnya.
Sekarang giliranmu.
Rekam dirimu mengucapkan "Van" dan "Fan" beberapa kali, lalu dengarkan lagi — untuk menangkap kontras ini, telingamu sendiri adalah feedback terbaik.
Kata yang berbeda hanya satu bunyi.
Setiap pasangan di bawah berbeda persis satu bunyi: ubah /v/ jadi /f/, dan maknanya ikut berubah. Ketuk kata mana pun untuk uraian lengkapnya.
Kalau kamu tak bisa membedakannya saat mendengar, inilah sebabnya.
Banyak bahasa tidak menggunakan bunyi /v/ sama sekali, atau memperlakukannya sangat berbeda dari bahasa Inggris Amerika. Penutur bahasa Indonesia, misalnya, tidak memiliki /v/ asli sehingga sering meleburnya menjadi /f/ (seperti menyebut TV menjadi ti-fi). Bahasa Mandarin juga tidak memiliki /v/, sehingga penuturnya sering menggantinya dengan /f/ atau /w/, mengubah very menjadi ferry atau wery. Penutur bahasa Spanyol sering melebur /v/ dengan /b/, membuat van terdengar seperti ban. Penutur bahasa Jerman dan Rusia mungkin bisa mengucapkan /v/ dengan sempurna di awal kata, tapi otomatis mengubahnya menjadi /f/ di akhir kata karena aturan penghilangan penyuaraan akhir (final devoicing)—pola yang juga sangat lumrah di bahasa Indonesia. Ini membuat leave terdengar persis seperti leaf. Untuk memperbaikinya, kamu harus secara sadar menjaga tenggorokanmu tetap bergetar sampai akhir kata saat mengucapkan /v/. Ejaan juga bisa menjebak: kata of diucapkan dengan /v/ (uhv), sementara off diucapkan dengan /f/ (ahf). Banyak pelajar membaca of dan tanpa sengaja mengucapkan off.
Otot mulut dulu, baru telinga.
4 latihan singkat. Lakukan dengan suara keras: rasakan perubahannya di dalam mulut sebelum mencoba mendengarnya.
Pengecekan getaran tenggorokan: letakkan ujung jarimu di tenggorokan dan tahan bunyi fffffff yang panjang. Kamu seharusnya tidak merasakan apa-apa. Sekarang beralihlah ke vvvvvvv. Kamu akan langsung merasakan getaran yang kuat. Berlatihlah bolak-balik: fff-vvv-fff-vvv.
Latihan di depan cermin: tatap cermin dan ucapkan van lalu fan. Bentuk mulutmu tidak boleh berubah sama sekali antara kedua kata tersebut. Pastikan kamu tidak menekan kedua bibirmu bersamaan (yang akan menghasilkan bunyi /b/ atau /p/).
Baca kalimat pasangan minimal (minimal pair) dengan lantang: The fan is in the van, Prove the proof, A very fairy tale. Lebih-lebihkan getaran pada kata-kata berbunyi /v/ agar otakmu merekam kontrasnya.
Tahan akhiran kata: saat berlatih kata-kata yang diakhiri bunyi /v/ seperti leave atau five, tahan getaran akhirnya selama dua detik penuh. Ini melatihmu agar getarannya tidak memudar menjadi bunyi /f/.