Sh /ʃ/ dan s /s/ dibedakan dari posisi lidah dan bentuk bibir. Untuk mengucapkan /s/, ujung lidah berada di dekat gigi (bisa mengarah ke atas di belakang gigi depan atas atau ke bawah di belakang gigi bawah), dan celah sempit di tengah lidah menciptakan desis yang tajam. Bibir tetap netral. Untuk /ʃ/, lidah ditarik lebih ke belakang, membentuk celah yang lebih lebar dan dangkal, sementara bibir sedikit membulat dan maju, seperti saat kamu mendesiskan shhh untuk menyuruh orang diam. Kombinasi bibir yang membulat dan perubahan bentuk lidah ini mengubah desis tajam menjadi desau yang lebih lebar. (Bagi lidah Indonesia, bunyi /ʃ/ terdengar seperti "sy" pada kata "syarat", namun /ʃ/ Amerika butuh bibir yang jauh lebih maju). Penutur bahasa Spanyol, Jepang, dan Korea sering mencampuradukkan kedua bunyi ini karena bunyi /s/ dan /ʃ/ asli mereka lebih minim gerakan bibir dibandingkan versi Amerika. Perhatikan juga pola ejaan bahasa Inggris: huruf 's' sering dibaca sebagai /ʃ/ sebelum huruf 'u' (sugar, sure) dan pada akhiran seperti '-sion' (passion).
Di mana kedua bunyi ini berbeda.
5 penyesuaian mulut kecil. Salah satu saja keliru, dan bunyinya tergelincir ke bunyi sebelahnya.
Sekarang giliranmu.
Rekam dirimu mengucapkan "Sheet" dan "Seat" beberapa kali, lalu dengarkan lagi — untuk menangkap kontras ini, telingamu sendiri adalah feedback terbaik.
Kata yang berbeda hanya satu bunyi.
Setiap pasangan di bawah berbeda persis satu bunyi: ubah /ʃ/ jadi /s/, dan maknanya ikut berubah. Ketuk kata mana pun untuk uraian lengkapnya.
Kalau kamu tak bisa membedakannya saat mendengar, inilah sebabnya.
Bahasa Spanyol, Jepang, dan Korea memperlakukan /s/ dan /ʃ/ dengan kebiasaan gerakan bibir dan lidah yang berbeda dari bahasa Inggris Amerika. Spanyol standar tidak menggunakan bunyi /ʃ/ sama sekali. Penuturnya biasanya menggantinya dengan afrikat /tʃ/ bahasa asli mereka (mengubah shoe menjadi chew) atau bunyi /s/ yang lebih halus. Bunyi /sh/ Jepang sebelum /i/ menggunakan konsonan terpalatalisasi /ɕi/ yang karakternya berada di antara /ʃ/ Amerika dan desis halus; penutur Jepang juga cenderung meleburkan keduanya persis sebelum vokal tersebut (see dan she sama-sama diucapkan mengarah ke /ɕi/). Penutur Korea sering saling menukar bunyi ini karena /s/ asli mereka punya variasi tajam maupun terpalatalisasi tergantung vokal yang mengikutinya. Di Indonesia, kita memakai pelafalan "sy" yang mirip, namun /ʃ/ Amerika sangat bergantung pada pembulatan bibir. Cukup majukan bibirmu ke depan, dan karakter bunyinya akan langsung berubah, bahkan sebelum lidahmu ikut bergerak.
Otot mulut dulu, baru telinga.
4 latihan singkat. Lakukan dengan suara keras: rasakan perubahannya di dalam mulut sebelum mencoba mendengarnya.
Uji gerakan bibir: ucapkan see. Bibir netral, tidak membulat. Sekarang ucapkan she. Majukan bibirmu seolah sedang bersiap mengecup. Nada bunyinya akan langsung turun. Lidahmu memang masih perlu sedikit ditarik ke belakang untuk menghasilkan /ʃ/ yang pas, tetapi melebih-lebihkan gerakan bibir ini akan melatih komponen penting yang paling sering dilupakan pembelajar.
Tahan setiap bunyi selama tiga detik: ssssss (tajam, sempit, bernada tinggi) lalu shhhhhh (lebar, mendesau, rendah). Lidah dan bibirmu harus sama-sama bergerak ketika kamu berganti bunyi. Kalau hanya lidahmu yang bergerak, kamu kehilangan unsur pembulatan bibir yang membuat /ʃ/ terdengar khas Amerika.
Baca kalimat berpasangan minimal (minimal pair): She sees the sea, Sue went to the shoe shop, I sip the ship. Buat gerakan bibir membulat sedemikian rupa secara berlebihan di setiap kata berbunyi /ʃ/. Dengarkan kembali ucapanmu. Kalau kata berbunyi /s/ dan /ʃ/ terdengar mirip, berarti gerakan bibirmu belum cukup maksimal.
Untuk latihan tingkat kalimat, coba frasa umum yang secara bergantian melibatkan kedua bunyi ini secara cepat: she sells seashells, shoot some hoops, shake some hands. Memori otot akan terbentuk jauh lebih tangkas saat kamu berlatih berpindah antara dua bunyi ini dengan ritme yang cepat.