Kamu mungkin sudah melihatnya ribuan kali dan selalu melewatkannya begitu saja. Kamu mencari sebuah kata di kamus, dan tepat di sebelah ejaannya, terselip di antara dua garis miring, ada deretan simbol: /ˈwɔtər/, /əˈbaʊt/, /ˈvɪʒən/. Beberapa huruf familier di matamu. Sebagian lagi malah terlihat seperti nyasar dari buku matematika. Jadi, kamu melakukan apa yang hampir semua orang lakukan: mengabaikan simbol-simbol itu dan menebak pengucapannya murni dari ejaan—padahal justru mencegah kebiasaan menebak itulah alasan utama simbol tersebut dibuat.
Deretan kecil itu adalah International Phonetic Alphabet (IPA), satu-satunya sistem tulisan yang secara jujur memberitahumu cara mengucapkan sebuah kata bahasa Inggris. Setiap artikel di blog ini sangat bergantung pada IPA, karena jujur saja, tidak ada cara lain yang masuk akal untuk membahas pelafalan bahasa yang ejaan dan bunyinya sudah putus hubungan sejak lima ratus tahun lalu. Artikel ini akan mengajarimu cara membacanya. Kabar baiknya—kabar yang sering dilupakan orang saat memberimu poster raksasa berisi 160 simbol IPA—kamu hampir tidak butuh sebagian besar isi tabel tersebut. Kamu hanya butuh beberapa puluh simbol yang dipakai dalam bahasa Inggris Amerika (General American), dan dari jumlah itu, mungkin hanya sepuluh yang bentuknya tidak sesuai tebakanmu.
IPA adalah alfabet dengan satu aturan mutlak: setiap simbol mewakili tepat satu bunyi, dan bunyi itu tidak pernah berubah. Itulah alasan utama IPA ada, dan alasan mengapa ia bisa melakukan apa yang gagal dilakukan oleh ejaan bahasa Inggris. Kamu tidak butuh seluruh tabel internasional. Bahasa Inggris Amerika hanya memakai sekitar empat puluh simbol: 24 konsonan dan 15 atau 16 vokal. Sebagian besar konsonannya persis seperti huruf yang sudah kamu kenal. Jadi, tugasmu sebenarnya ringan. Ada sekitar sepuluh simbol yang sering disebut “mengejutkan”, tapi buat kita ada kabar baik: beberapa di antaranya justru bunyi yang sudah kita tulis tiap hari. /j/ adalah bunyi y dalam yes, persis seperti ⟨y⟩ kita di “ya”; /ʃ/ adalah sh, bunyi ⟨sy⟩ kita di “syarat”. Jebakan yang sesungguhnya buat penutur Indonesia ada di tempat lain: vokal bahasa Inggris (kita cuma punya enam), bunyi th, v, z, dan konsonan di akhir kata. Schwa /ə/—huruf e terbalik itu, alias e pepet kita—adalah bunyi paling umum dalam bahasa ini. Tambahkan dua tanda kecil untuk tekanan kata (stress), selesai. Begitu kamu menguasainya, entri kamus tidak lagi cuma jadi pajangan, melainkan instruksi yang jelas.
Kenapa ejaan itu bohong, dan IPA jujur
Mari kita mulai dengan kata yang menjadi nama perusahaan ini. Kata water, yang dieja dengan huruf t di tengah dan er di akhir, keluar dari mulut orang Amerika sebagai waa-der: huruf t-nya melunak jadi ketukan cepat yang terdengar seperti d, dan akhiran -er dibaca sebagai satu kesatuan vokal berwarna-r (r-colored vowel), bukan vokal ditambah bunyi r yang terpisah. Dari lima huruf w-a-t-e-r itu, tidak satu pun memberitahumu tentang hal ini. Ejaan bahasa Inggris adalah artefak sejarah yang membeku sejak zaman penemuan mesin cetak dan tidak pernah diperbarui. Sejak saat itu, ejaan ini diam-diam membohongi para pembelajar di seluruh dunia.
Kebohongan ini terjadi dalam dua arah, dan itulah yang membuatnya sangat sulit diprediksi. Di satu sisi, satu ejaan bisa menghasilkan banyak bunyi: deretan huruf ough dibaca dengan vokal yang sama sekali berbeda pada kata though, through, tough, thought, dan bough. Lima kata, satu kombinasi huruf, tapi tak satu pun bunyinya berima satu sama lain.
Di sisi lain, satu bunyi bisa sembunyi di balik banyak ejaan: bunyi ee panjang pada see juga dieja sebagai ea pada sea, ie pada field, i pada machine, ey pada key, dan eo pada people. Enam kostum, satu bunyi. Kalau kamu mencoba menebak pengucapan bahasa Inggris hanya dari deretan hurufnya, tebakanmu sering kali meleset, dan parahnya, kamu tidak tahu kapan kamu akan meleset.
IPA dirancang khusus untuk menutup celah kebohongan ini. Aturan dasarnya sangat baku: hubungan antara simbol dan bunyi bersifat tetap. Satu simbol selalu menuliskan satu bunyi, dan satu bunyi selalu ditulis dengan simbol yang sama, tidak peduli bagaimana ejaan aslinya berusaha mengelabui matamu. /i/ adalah lambang untuk bunyi ee, entah itu untuk kata see, machine, atau people. Aturan tunggal inilah yang menjadi kode rahasianya (cheat code). Sekali kamu paham cara membacanya, setiap entri di kamus, setiap kata di blog ini, setiap transkripsi yang kamu temukan akan berubah dari teka-teki menjadi instruksi presisi untuk mulutmu.
Satu simbol, satu bunyi — dan cuma yang kamu butuhkan
Tabel lengkap International Phonetic Alphabet memang sangat masif karena dirancang untuk menuliskan setiap bunyi dalam seluruh bahasa manusia: bunyi decak, nada, hingga konsonan di kerongkongan dalam yang tidak pernah eksis dalam bahasa Inggris. Itulah mengapa poster IPA di dinding kelas bahasa sering kali bikin ciut nyali. Tabel itu adalah alat global, sementara kamu cuma mau belajar satu aksen dari satu bahasa.
Bahasa Inggris Amerika hanya meminjam sekitar empat puluh simbol. Jumlah pastinya sedikit bervariasi tergantung bagaimana kita menghitung vokal yang melebur, tapi polanya kokoh: sekitar 24 konsonan dan 15 sampai 16 vokal. Itu saja perangkat kerjamu. Singkirkan sisa tabel lainnya dan kamu hanya akan menghadapi materi yang sebenarnya bisa dipelajari dalam satu sore.
Prosesnya pun jauh lebih mudah, karena simbol-simbol ini tidak acak tingkat kesulitannya. Mayoritas konsonannya menggunakan huruf Latin biasa yang bisa kamu tebak tanpa belajar: /b/ adalah bunyi b pada bed, /p/ adalah p pada pen, /m/ adalah m pada man. Kamu sudah hafal semua ini; kamu cuma tidak sadar kalau kamu sudah tahu. Masalahnya terpusat pada satu kelompok kecil: segelintir simbol konsonan yang bentuknya tidak sama dengan bunyinya, plus barisan vokal, area di mana simbol dan ejaan hampir sepenuhnya cerai. Tahu letak masalahnya adalah separuh jalan menuju sukses. Kamu tidak perlu siap-siap menghafal empat puluh kejutan, cukup bersiap untuk sepuluh saja.
Sebagian besar konsonan adalah alfabet biasa
Inilah set lengkap konsonan Amerika. Coba baca kolom terakhirnya dulu—bunyi sehari-hari yang diwakili setiap simbol—dan perhatikan betapa banyak yang bunyinya sama persis dengan hurufnya. Setiap simbol terhubung ke pelajaran lengkap tentang bunyi tersebut kalau kamu butuh berlatih; untuk saat ini, tujuannya cuma sekadar kenal bentuk dan tahu bunyinya.
| Simbol | Seperti pada | Bunyi sehari-harinya |
|---|---|---|
| /p/ | pen | p |
| /b/ | bed | b |
| /t/ | ten | t |
| /d/ | den | d |
| /k/ | kit | k (juga sering dieja c, ck, q) |
| /g/ | get | g keras |
| /f/ | fan | f (juga ph) |
| /v/ | van | v |
| /θ/ | think | th tanpa suara (voiceless) |
| /ð/ | this | th bersuara (voiced) |
| /s/ | sun | s |
| /z/ | zoo | z |
| /ʃ/ | ship | sh (= ⟨sy⟩ kita di “syukur”) |
| /ʒ/ | vision | bunyi si pada vision |
| /h/ | hat | h |
| /tʃ/ | chip | ch (= ⟨c⟩ kita di “cinta”) |
| /dʒ/ | job | j (= ⟨j⟩ kita di “jam”; juga g lembut) |
| /m/ | man | m |
| /n/ | net | n |
| /ŋ/ | sing | ng (ini satu bunyi utuh) |
| /l/ | let | l |
| /r/ | red | r Amerika |
| /w/ | wet | w |
| /j/ | yes | y (= ⟨y⟩ kita di “ya”) |
Dari 24 baris tersebut, kamu bisa langsung melihat bahwa sebagian besar sama sekali tidak menyulitkan. Enam belas di antaranya adalah huruf biasa, dan kamu bahkan bisa mengisi tabel ini sendiri tanpa panduan. Beban kerjamu bukanlah menghafal 24 simbol baru, melainkan hanya beberapa lambang di tengah tabel yang wujudnya menyimpang dari ekspektasimu—dan bahkan sebagian dari yang “menyimpang” itu (sh, ch, j, y) sebenarnya bunyi yang sudah kamu tulis tiap hari, cuma dengan lambang yang asing. Dari kelompok konsonan ini, yang bunyinya benar-benar baru buat penutur Indonesia tinggal /θ/, /ð/, /v/, /z/, dan /ʒ/.
Sebelum kita lanjut, ada beberapa catatan penting. Simbol /r/ adalah cara standar kamus menuliskan bunyi r Amerika. Meskipun beberapa buku fonetik menggunakan /ɹ/ untuk menegaskan bahwa r bahasa Inggris bukanlah bunyi tril yang bergetar, kedua simbol itu mewakili bunyi yang sama. Ingat, R Indonesia adalah bunyi tril—lidahmu bergetar di belakang gigi atas. R Amerika bukan tril; lidah tidak menyentuh atap mulut sama sekali.
Selain itu, beberapa simbol bekerja lebih keras dibandingkan dengan huruf aslinya: /k/ digunakan untuk menulis bunyi c keras di kata cat, ck di back, dan q di quick. Ini karena bunyinya identik, tak peduli huruf apa yang dipilih ejaan bahasa Inggris. Inilah wujud aturan IPA yang sesungguhnya: bunyi menentukan simbol; ejaan tidak punya hak suara.
Sepuluh simbol yang selalu mengecoh
Inilah daftar pendek yang wajib kamu hafal, simbol-simbol yang akan menjebakmu kalau kamu nekat membacanya murni memakai insting alfabet biasa. Sepuluh simbol ini adalah sumber dari hampir semua kebingungan dalam IPA—dan menariknya, beberapa di antaranya justru gampang buat kita karena ejaan Indonesia sudah memakainya.
Simbol yang paling sering disalahpahami pembelajar bahasa Inggris adalah /j/. Bunyi ini bukan j. Ini adalah bunyi y di awal kata yes, year, dan yellow. Itulah kenapa cute ditulis /kjut/ dan few ditulis /fju/—simbol kecil /j/ itu melambangkan selipan luncuran y yang kamu buat sesaat sebelum bunyi oo. Buat penutur Inggris, Spanyol, Prancis, atau Portugis, simbol ini jebakan setiap saat, karena di bahasa mereka huruf j berbunyi lain. Tapi buat kita justru sebaliknya: ejaan Indonesia sudah memakai ⟨y⟩ untuk bunyi /j/ di kata “ya” dan “saya”, jadi /j/=Y terasa intuitif. Yang perlu kamu jaga hanya satu: jangan refleks membacanya sebagai j Indonesia di kata “jam”.
Selanjutnya ada kelompok bunyi yang dalam ejaan Inggris ditulis pakai h sebagai pasangan huruf, lalu mendapat satu simbol bersih di IPA, karena IPA menolak menulis satu bunyi dengan dua huruf. /ʃ/ adalah sh, bunyi pada ship, dan juga bunyi tersembunyi di dalam machine, sure, dan semua akhiran -tion. Buat kita ini bunyi lama: persis ⟨sy⟩ di “syukur” dan “masyarakat”. Pasangannya yang bersuara (voiced) adalah /ʒ/, bunyi dengung lembut di tengah kata vision dan measure, serta di akhir kata garage—bunyi yang kebetulan tidak pernah punya hurufnya sendiri dalam bahasa Inggris, dan satu-satunya dari kelompok ini yang asing buat kita.
Dua bunyi afrikat ch/j ditulis sebagai tim dua simbol yang menunjukkan bahan dasar pembentuknya: /tʃ/ adalah bunyi ch seperti dalam chip (secara harfiah ini adalah bunyi /t/ yang dilepas menjadi /ʃ/), dan /dʒ/ adalah bunyi j pada job atau g lembut di kata gym (sebuah /d/ yang dilepas menjadi /ʒ/). Kedua bunyi ini sebetulnya kita tulis tiap hari—⟨c⟩ kita di “cinta” adalah /tʃ/, dan ⟨j⟩ kita di “jam” adalah /dʒ/—cuma lambang IPA-nya saja yang terlihat rumit. Inilah satu-satunya tempat di antara konsonan di mana satu bunyi mendapat dua simbol, dan itu disengaja: susunannya memberitahumu resep membunyikannya.
Dua bunyi th adalah pasangan terkenal karena bahasa Inggris menulis keduanya dengan huruf yang sama persis (t-h), tapi IPA memisahkan mereka. /θ/ adalah bunyi th yang berdesis dan tidak bersuara (voiceless) seperti pada think dan bath; /ð/ adalah bunyi th yang berdengung dan bersuara (voiced) seperti pada this dan mother. Taruh tanganmu di leher: yang kedua bergetar, yang pertama tidak. Pasangan inilah yang membuat bunyi TH mendapat artikelnya sendiri, dan ia sering jadi masalah bagi penutur Indonesia karena bunyi ini tidak ada dalam bahasa kita—kita cenderung menggantinya dengan t/d atau s/z. Bunyi nasal juga menyimpan kejutan: /ŋ/, bunyi ng di kata sing, adalah satu bunyi utuh yang dihasilkan di belakang mulut, bukan huruf n diikuti g. Alasan kenapa kata singer sama sekali tidak mengandung bunyi g yang murni bisa kamu baca lebih lengkap di artikel NG.
Itu saja untuk konsonan. Dua simbol terakhir di daftar ini bukan konsonan penuh. Yang pertama adalah schwa, /ə/, huruf e terbalik yang melambangkan bunyi uh pendek, seperti suku kata pertama di about atau suku kata terakhir di sofa. Untungnya, dalam bahasa Indonesia bunyi ini sudah ada: ia adalah e pepet di kata “enam” atau “lemah”. Karena perannya di bahasa Inggris luar biasa luas, schwa mendapat bagiannya sendiri di bawah nanti. Simbol terakhir adalah flap, /ɾ/, ketukan lidah kilat yang muncul sebagai pengganti t pada kata water. Kamu tidak akan sering melihat flap di kamus standar yang lebih memilih menuliskan /t/ bersih, tapi simbol ini ada di blog ini dan di transkripsi fonetik tingkat lanjut. Sangat sepadan untuk dikenali, karena inilah simbol di balik fenomena flap-T dan di balik nama SayWaader itu sendiri: /ˈwɑɾɚ/.
Vokal: saat simbol tak lagi sama dengan huruf
Kalau konsonan terasa mudah, vokal adalah area ujian sebenarnya. Bahasa Inggris hanya punya lima huruf vokal tetapi memiliki sekitar lima belas atau enam belas bunyi vokal. Tentu saja jumlah simbolnya tidak mungkin sama dengan ejaannya. IPA butuh lambang berbeda untuk setiap bunyi. Tabel berikut memperlihatkan empat belas vokal dan diftong sehari-hari; schwa dan vokal berwarna-r dari bagian selanjutnya akan menggenapkan totalnya jadi 15 atau 16. Tabel lengkap tentang posisi mulut dan pasangan tense-lax yang menjebak sebagian besar pembelajar adalah tugas dari artikel Vokal Amerika, yang harus kamu baca setelah ini jika vokal adalah kelemahanmu.
| Simbol | Seperti pada | Perhatikan |
|---|---|---|
| /i/ | see | ee panjang; bukan sekadar huruf i |
| /ɪ/ | sit | bunyi ih pendek dan santai; mencegah ship terdengar seperti sheep |
| /ɛ/ | bed | bunyi eh pada bet |
| /æ/ | cat | bunyi a pipih Amerika; tidak ada dalam bahasa Indonesia—bukan /a/, bukan /ɛ/. Rahang lebih turun. |
| /ɑ/ | father | bunyi ah terbuka lebar pada hot |
| /ɔ/ | saw | bunyi aw bulat; banyak orang Amerika meleburnya menjadi ah |
| /ʊ/ | book | bunyi uu pendek; bukan bunyi oo panjang di moon |
| /u/ | moon | bunyi oo panjang |
| /ʌ/ | fun | bunyi uh bertekanan di cut; kembarannya schwa tapi lebih keras |
| /eɪ/ | day | diftong, mulai dari atas eh, meluncur naik ke ee |
| /aɪ/ | my | meluncur dari ah naik ke ee |
| /ɔɪ/ | boy | luncuran oy |
| /aʊ/ | now | luncuran ow |
| /oʊ/ | go | meluncur dari oh menuju oo; bukan bunyi o datar |
Dua hal di tabel tersebut yang memicu paling banyak miskomunikasi, dan keduanya pantas disinggung sekarang walau sudah dibahas tuntas di artikel vokal. Pertama, beberapa simbol datang berpasangan: versi tegang (tense) dan rileks (lax). Bahasa Inggris membedakannya secara ketat, sementara banyak bahasa (termasuk Indonesia) tidak: /i/ versus /ɪ/ (sheep vs ship), /u/ versus /ʊ/ (fool vs full). Saat kamus menunjuk /ɪ/ dan bukan /i/, ia secara presisi sedang menyuruhmu memakai vokal pendek yang rileks. Perbedaan krusial ini sama sekali buta di ejaannya. Kedua, lima baris terakhir adalah diftong, vokal yang bergerak saat kamu mengucapkannya. Makanya ia ditulis dengan dua simbol: titik mulai dan arah luncurannya. Dua huruf tersebut bukan dua bunyi terpisah, melainkan satu bunyi yang bergerak.
Sedikit catatan untuk vokal berwarna-r (r-colored vowels), seperti pada kata car, bird, dan akhiran abadi -er pada mother. Kamus menuliskannya sebagai vokal ditambah /r/. Jadi bird ditulis /bɜrd/ dan mother diakhiri dengan /ər/—schwa-plus-r yang akan kita singgung lagi nanti. Dalam aksen rhotic seperti bahasa Inggris Amerika, r melebur langsung ke dalam vokal tersebut, dan gerak lidahnya sama menantangnya dengan konsonan r biasa. Penjelasan lengkapnya ada di R Amerika. Untuk urusan membaca, ingat saja bahwa /r/ yang duduk setelah vokal di dalam satu suku kata berarti vokalnya «diwarnai» oleh r itu, bukan berarti kamu berhenti sejenak lalu menambahkan bunyi r yang terpisah.
Tanda tekanan dan tugas utama schwa
Dua tanda kecil di dalam transkripsi punya peran yang sangat besar, dan kebanyakan pembelajar menyepelekannya. Ini adalah tanda tekanan (stress marks), dan kualitas bahasa Inggrismu hidup atau mati di sini. Ini penting karena bahasa Indonesia dan bahasa Inggris punya irama yang berbeda secara fundamental. Bahasa Indonesia cenderung memberikan durasi dan bobot yang rata pada setiap suku kata. Bahasa Inggris itu stress-timed: suku kata yang punya tekanan akan panjang dan keras, sisanya menyusut cepat.
Tanda pertama adalah kutip lurus di atas, /ˈ/, dan letaknya sebelum suku kata yang menanggung ketukan utama. Tanda kedua adalah kutip bawah, /ˌ/, yang menandai tekanan sekunder yang lebih lemah pada kata panjang. Jadi record (kata benda) adalah /ˈrɛkərd/, ketukannya di depan, sedangkan record (kata kerja) adalah /rɪˈkɔrd/, ketukannya di belakang. Menggeser satu tanda mengambang ini mengubah keseluruhan dinamika: tanda ini memutuskan suku kata mana yang utuh dan mana yang menyusut, sehingga bentuk vokalnya ikut berubah beriringan dengan tekanan. Bentuknya yang cuma seperti koma atas membuat orang mengabaikannya. Padahal mengabaikannya adalah tiket tercepat menuju penekanan suku kata yang salah pada kata yang (seandainya tekanannya benar) sudah kamu ucapkan dengan sempurna. Logika di balik sistem ini dibahas di tekanan kata; di sini, cukup berjanjilah bahwa kamu akan berhenti mengabaikan tanda kutip itu.
Di wilayah tekanan (stress) inilah schwa juga menemukan panggungnya. Simbol /ə/ ini menuliskan bunyi uh (atau e pepet) pendek yang diucapkan dengan rahang yang sangat rileks. Pekerjaan utamanya adalah menjadi wadah penyusutan vokal yang kehilangan tekanannya. Lihat peristiwanya: kata photograph mempertahankan vokal /æ/ yang bersih dan utuh di suku kata terakhirnya, FOH-tuh-graf. Namun, di kata photography, tekanannya melompat ke suku kata kedua, dan vokal terakhir yang tadinya utuh itu kini larut menjadi schwa, fuh-TAH-gruh-fee. Huruf ejaannya tidak ada yang berubah. Tekanannya yang pindah, dan vokal yang tidak dapat tekanan luruh menjadi schwa. Inilah alasan kenapa transkripsi kata bahasa Inggris yang panjang sering kali hanya berisi satu-dua vokal bening yang dikelilingi kerumunan /ə/. Di percakapan asli, hanya suku kata yang mendapat tekanan yang mempertahankan vokalnya; sisanya menyusut. Schwa di entri kamus menandai suku kata yang harus kamu keluarkan dengan cepat, lemah, dan ditelan. Memaksakan diri melafalkannya seolah ia adalah vokal murni malah akan membuat aksen aslimu makin ketara. Ada artikel khusus untuk schwa, karena kebiasaan yang satu ini—menyusutkan suku kata yang tepat—membedakan kefasihan tingkat lanjut dengan gaya membaca kaku ala buku teks lebih dari konsonan apa pun.
Membaca entri kamus, dari kiri ke kanan
Mari gabungkan semua aturan ini di entri aslinya. Cari kata water di kamus Amerika yang bagus, dan kamu akan melihat transkripsi yang bentuknya kurang lebih begini: /ˈwɔtər/. Bacalah layaknya kamu membaca kata normal, dari kiri ke kanan, satu per satu. Tanda kutip pembuka /ˈ/ memberitahumu bahwa tekanan jatuh pada suku kata berikutnya—jadi suku kata pertamalah yang kuat. /w/ ya cuma huruf w. /ɔ/ adalah vokal aw membulat, walaupun banyak warga Amerika yang akan memakai bunyi ah terbuka dari kata father sebagai gantinya, dan kamus hanya menyajikan salah satu opsi standar. /t/ adalah bentuk dasar t. Kemudian /ər/, schwa-plus-r, akhiran berwarna-r yang santai. Rangkai semuanya dan kamu mendapatkan pelafalan yang hati-hati dan ideal ala kamus.
Namun, apa yang tidak ditunjukkan oleh kamus tersebut adalah apa yang akan dilakukan mulutmu selanjutnya. Di sinilah konteks berperan. Saat diucapkan dengan lantang, orang Amerika tidak menyebutkan /t/ yang tajam di situ. Huruf t itu terjepit di antara dua vokal dan tidak memegang tekanan, sehingga ia menjadi bunyi kepakan lidah kilat, dan pelafalan yang sebenarnya keluar dalam ucapan mengalir justru lebih dekat ke [ˈwɑɾɚ], waa-der. Kamus memberimu cetak biru ideal: bahan dasar pembentuk kata itu. Flap-T adalah peristiwa alamiah yang terjadi pada bahan tersebut di percakapan cepat. Kamus tidak salah di sini, mereka cuma bekerja di resolusi yang lebih kasar. Bagian selanjutnya akan membahas jenis kurung yang jadi rambu kapan kamu melihat cetak biru, dan kapan kamu melihat pengucapan aslinya.
Satu contoh lagi, untuk melihat kerja sama antara tanda tekanan dan schwa. Kata banana ditulis /bəˈnænə/: diawali schwa, diikuti suku kata bertekanan /næ/ dengan vokal a pipih, dan ditutup schwa. Tiga suku kata, tetapi hanya yang di tengah yang dibaca jernih dan keras. Ujung-ujungnya sama-sama mendapat /ə/ lemah, sekalipun di ejaannya ketiga huruf vokal itu sama persis: a. Baca transkripsinya, dan ia memberitahumu instruksi konkret: buh-NAN-uh—fakta yang sengaja disembunyikan ejaan banana. Itulah inti keahlian ini: setiap entri kamus adalah instruksi, dan sekarang kamu sudah tahu cara menjalankannya.
Garis miring, kurung siku, dan kenapa kamus sering beda
Kamu mungkin memperhatikan bahwa simbol sering kali diapit garis miring, seperti /ˈwɔtər/, namun kadang diapit kurung siku, [ˈwɑɾɚ]. Perbedaannya nyata tetapi bukan masalah besar. Garis miring berarti transkripsi fonemik: deretan bunyi bahan dasar kata tersebut, cetak biru idealnya—inilah yang dicetak oleh kamus standar. Kurung siku berarti transkripsi fonetik: suara fisik asli yang keluar dari mulut, yang juga mencakup modifikasi otomatis lidah (seperti flap atau embusan udara pada huruf p di awal kata). Pendeknya: fonemik adalah rencana, fonetik adalah pementasan. Blog ini sering memakai garis miring untuk rencana dasarnya dan beralih ke kurung siku kalau kami ingin menunjukkan pementasan aslinya—flap pada kata water adalah alasan paling umum.
Fakta ini juga menjawab kebingungan orang saat pertama kali mereka membandingkan dua kamus: kenapa kadang dua kamus berbeda tidak menuliskan simbol yang sama untuk satu kata yang sama? Jawabannya: karena memang begitu, dan tak satupun yang salah. Beberapa perbedaan muncul karena memang ada variasi pengucapan di Amerika. Contoh paling terkenal adalah pasangan kata cot/caught. Banyak penutur yang melebur vokal /ɔ/ (pada kata caught) jadi /ɑ/ (seperti di cot). Jadi, wajar kalau satu kamus menulis kata thought dengan /ɔ/ dan kamus lainnya dengan /ɑ/—keduanya menggambarkan realita. Artikel cot–caught merger akan membahas ini tuntas.
Sisa ketidakcocokan lainnya murni masalah gaya selingkung penerbit. Buku A menulis r Amerika sebagai /r/, sementara buku B memaksa /ɹ/. Kamus satu merangkum vokal pada kata day sebagai /eɪ/, tapi kamus tetangga menyederhanakannya jadi /e/. Ini sama halnya dengan membaca suara yang sama dengan jenis font tulisan tangan yang sedikit berbeda. Begitu kamu hafal bentuk dasarnya, kamu akan bisa mengabaikan masalah kosmetik ini dan menyadari bahwa secara substansi, semua kamus sepakat lebih dari yang kamu bayangkan.
Baca dengan lantang
Membaca IPA hanya bisa lancar kalau dipraktikkan, dan dua latihan ini cuma butuh waktu sepuluh menit. Pertama, memecahkan kata tunggal secara mentah. Tutup kolom sebelah kanan dengan tanganmu, baca transkripsinya dengan lantang hanya dari bentuk simbolnya, lalu buka jawabannya untuk mencocokkan. Tujuannya adalah melatih matamu menatap /ʒ/ atau /j/ dan mendengarnya seketika di kepalamu, tanpa harus menerjemahkannya pelan-pelan.
| Dalam IPA | Kata |
|---|---|
| /jɛs/ | yes |
| /ˈvɪʒən/ | vision |
| /θɪŋ/ | thing |
| /dʒɑb/ | job |
| /tʃip/ | cheap |
| /ˈsɪŋər/ | singer |
| /kjut/ | cute |
| /əˈbaʊt/ | about |
Setelah itu, baca kembali bunyi-bunyi jebakan tadi dalam wujud kalimat utuh. Ucapkan setiap baris dengan lantang, ikuti panduan respelling (bantuan bacaan) di bawahnya, lalu putar audionya untuk membandingkan suaramu dengan suara penutur asli. Boleh juga didengar dulu sebelum dicoba, mana saja yang nyaman bagimu.
- Yes, the year is young. YES, the YEER is YUNG.
- Her vision is unusual. Her VIZH-un is un-YOO-zhoo-ul.
- I think this is the thing. I THINK THIS is the THING.
- The singer chose a job. The SING-er CHOHZ a JAHB.
- A photograph, not photography. A FOH-tuh-graf, not fuh-TAH-gruh-fee.
- The water in the bottle. The WAA-der in the BAH-dul.
- A few cute beauties. A FYOO KYOOT BYOO-teez.
- She bought a record to record. She bought a REK-erd to re-KORD.
Kalau simbol y /j/ itu masih bikin kamu refleks mau bilang j murni, perlambat iramamu di dua baris pertama sampai insting baru itu menempel. Satu simbol itu saja sudah bertanggung jawab atas lebih banyak salah baca dibandingkan seluruh tabel digabungkan.
Tanya Jawab
IPA adalah singkatan dari International Phonetic Alphabet, sebuah sistem tulisan dengan aturan mutlak bahwa setiap simbol mewakili tepat satu bunyi secara permanen. Kamus memakainya karena ejaan standar bahasa Inggris itu penipu: huruf yang sama bisa diucapkan berbeda (though, through, tough) dan bunyi yang sama bisa disembunyikan di ejaan berbeda (ee pada see, sea, machine). IPA menutup celah ini dengan memberi setiap bunyi satu simbol tetap. Dengan IPA, tulisan seperti /ˈwɔtər/ memberitahumu dengan sangat detail cara mengucapkannya, tak peduli sekacau apa ejaan aslinya.
Sekitar empat puluh—jauh lebih sedikit dibanding tabel internasional penuh yang jumlahnya 160-an. Bahasa Inggris Amerika menggunakan sekitar 24 simbol konsonan dan 15 atau 16 simbol vokal. Beban kerja ini jauh lebih ringan dari kelihatannya, karena sebagian besar konsonannya adalah alfabet biasa yang sudah kamu kenal (misalnya /b/ untuk b, /m/ untuk m). PR aslinya hanyalah segelintir (sekitar sepuluh) simbol konsonan pengecoh, serta kelompok vokal, yang memang sangat berbeda dari ejaan aslinya.
Karena IPA menugaskan setiap simbol untuk satu bunyi permanen yang ditarik dari kelaziman lintas bahasa di seluruh dunia, dan /j/ mendapat tugas melambangkan bunyi y di awal kata yes. Dalam bahasa Jerman, Belanda, dan Skandinavia, huruf j memang berbunyi y, jadi pemilihan ini sangat natural di mata para penciptanya. Kebetulan saja ini menjebak siapa pun yang bahasa ibunya memakai j untuk bunyi lain, seperti /dʒ/ di bahasa Inggris (job), /x/ di bahasa Spanyol, dan /ʒ/ di bahasa Prancis atau Portugis. Oleh karena itu, cute ditulis /kjut/ dan you ditulis /ju/—simbol /j/ itu akan selalu dibaca y.
Simbol tersebut adalah schwa (/ə/), yang merepresentasikan bunyi uh pendek (e pepet) yang diucapkan saat mulut sedang benar-benar rileks. Ia menandai suku kata yang tak mendapat tekanan, tempat vokal asli telah menyusut atau luruh. Schwa merupakan bunyi paling umum di percakapan bahasa Inggris lisan. Saat kamu melihatnya, berarti suku kata tersebut harus diucapkan dengan sangat cepat, lemah, dan agak ditelan—bukan diucapkan terang-terangan dengan vokal yang jernih. Di dalam kata /əˈbaʊt/ (about), suku kata pertamanya hanya schwa sayup-sayup dan semua tenagamu dilepas di suku kata kedua. Memaksakan diri melafalkan vokal “a” yang penuh di suku kata pertama adalah jaminan terdengar seperti penutur asing.
Garis miring menandai transkripsi fonemik—idealisasi bahan bunyi pembentuk sebuah kata. Inilah yang dicetak oleh kamus di mana-mana: /ˈwɔtər/. Kurung siku menandai transkripsi fonetik—suara fisik aktual yang keluar dari mulut, yang sering kali sudah termodifikasi oleh kelenturan lidah seperti flap t: [ˈwɑɾɚ]. Versi fonemik adalah rencana di atas kertas; fonetik adalah kenyataan di lapangan. Sebagai pembelajar, versi garis miring sering kali sudah lebih dari cukup, dengan tambahan pengetahuan kurung siku untuk memberitahumu apa yang sebenarnya terjadi di obrolan bertempo cepat.
Ada dua alasan, dan tidak ada satu pun yang otomatis salah. Pertama, variasi nyata di logat Amerika. Banyak warga Amerika yang menyatukan bunyi vokal pada cot dan caught. Jadi, wajar kalau kamus A menulis thought dengan /ɔ/ dan kamus B dengan /ɑ/; keduanya benar dan valid. Kedua, masalah pedoman gaya selingkung. Konsonan r Amerika sering ditulis /r/ di satu buku namun ditulis /ɹ/ di buku lain. Hal yang sama juga berlaku untuk akhiran -er bertekanan, kadang muncul sebagai /ɝ/, kadang dijabarkan menjadi /ər/. Semuanya adalah bunyi yang persis sama, hanya tulisan tangannya saja yang beda. Jika fondasimu sudah kokoh, perbedaan kosmetik ini tidak akan membebanimu.
Mulai sekarang, cobalah buka tabel panduan pelafalan setiap kali kamu mencari kata di kamus. Berusahalah membaca simbolnya lebih dahulu ketimbang memercayai ejaan alfabetnya. Deretan sekitar 40 bentuk aneh ini akan berhenti terasa seperti teks alien dalam seminggu atau dua minggu asalkan kamu sering menggunakannya. Dari situlah, deretan kurung miring ini akan resmi menjadi satu-satunya bagian di entri kamus yang bisa kamu percayai mentah-mentah.